Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Istana Pelarian Senja: Istana Maya Menguak Fenomena

Blog EntryJul 1, '07 8:50 AM
for everyone

Aku dilahirkan di sebuah keluarga Jawa. Mau tak mau sehari-hari tak asing dengan percakapan Bahasa Jawa antara bapak dan mamaku. Aku mengerti apa yang mereka ucapkan, tapi jawabannya selalu ditingkahi dengan bahasa 'ngoko' (bahasa untuk ke sebaya atau orang yang lebih muda). Hal ini disebabkan aku lahir di Tanah Pasundan yang tentu saja membawa Bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar pergaulan. Belum lagi lingkungan rumah yang merupakan asimilasi budaya Sunda dan Jawa. Tidak aneh jika sebagian dari orang Sunda bisa berbahasa Jawa.

 

Sebagai masyarakat perantauan sudah sewajarnya memegang teguh peribahasa 'di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung'. Intinya sih mengikuti adat-istiadat setempat. Samapi detik ini saya masih belajar Bahasa Sunda terutama saat menonton berita Bahasa Sunda di beberapa stasiun televisi lokal. Sementara Bahasa Jawa pun saya tidak fasih. Dampaknya adalah bahasa Ngoko masih sering digunakan, meski bicara dengan nenek dan kakek. Anehnya kalau menelepon kakak di Solo sering sekali menggunakan bahasa masing-masing. Saya dan adik memakai Bahasa Sunda dan kakak laki-laki saya menggunakan Bahasa Jawa. Anehnya selalu nyambung. Mungkin Bahasa ikatan qolbu.

 

Suatu hari pernah saya mencoba menulis cerita pendek berbahasa daerah (Sunda dan Jawa), hasilnya amburadul. Bahkan ketika membaca cerita pendek atau novel bahasa tersebut tak jarang menanyakan artinya secara harfiah kepada mama (bila berbahasa Jawa) atau tetangga sebelah (jika berbahasa Sunda) tentu saja sangat mengurangi kenikmatan membaca.

 

Justru saya tak habis pikir ketika disodori tulisan berbahasa Melayu (baik sajak, pantun, novel, dan lainnya), saya begitu menikmati. Meski kadang tidak tahu arti harfiahnya. Dengan meraba arti kalimat atau paragraf, saya mengira-ngira artinya. Persoalannya bukan masalah mentafsirkan arti. Bisa jadi, karena saya memang suka lagu-lagu Melayu dan Zapin. Sejak duduk di bangku SD, mama sering memperdengarkan lagu-lagu Melayu. Ketika awal-awal kemunculan TPI ada sinetron Malaysia yang tak saya ketahui judulnya. Selain memang menggunakan Bahasa Melayu. Atau acara Titian Muhibah di TVRI yang selalu menggunakan percakapan dengan selipan pantun. Atau akhir-akhir ini saya temukan -meski terlambat-lagu-lagu Melayu Siti Nurhaliza makin mengukuhkan kesukaan saya akan budaya Melayu. Selain lagu-lagu ciptaan Said Effendi yang mendayu. 'Semalam di Malaysia' membuat saya teringat seseorang di Malaysia sana yang tengah berjuang untuk kebebasannya. Itupun akibat ditipu. 'Timang-Timang' membawa saya pada bayangan sebuah malam saat seorang adik kelas bercerita penderitaan sebagai anak tiri. Hingga detik ini kami terpisah tanpa sedikitpun kabar. 'Di Ambang Sore' mengajak saya untuk tabah dan melihat kenyataan bahwa seseorang tak akan pernah kembali, meski saya menunggunya setiap senja.

 

Tak hanya itu, saya begitu gandrung dengan cerita Siti Nurbaya, Salah Asuhan, dan Sengsara Membawa Nikmat. Meski untuk saat ini roman dan novel itu sangat sulit dicari. Alhamdulillah kerinduan saya terpenuhi dengan adanya tetralogi dari Bang Andrea Hirata. Selain temanya soal pendidikan. Tema yang begitu saya cintai. Selain itu, denyut nadi sastra Melayu -meski Bang Andrea Hirata menganggap bukan Melayu yang kental-membuat saya menikmati kebobrokan dan penderitaan orang-orang Melayu Belitung.

 

Setiap kali membaca dan mendengar hal-hal berkelindan pada kemelayuan, ada rasa iri yang melingkupi hati ini. Betapa tidak? Sepertinya memang Allah SWT telah menggariskan orang-orang Melayu pandai menyampaikan bahasa Indah melalui kedalaman estetika. Talenta mereka sangat mengagumkan. Menali-temali bahasa berujung simpul keindahan. Sepertinya direktori otak mereka penuh dengan bahasa-bahasa tak biasa atau berbunga.

 

Meski aku terlahir sebagai orang Jawa dan dibesarkan di Tanah Sunda, tapi tak bisa dipungkiri kalau aku menyukai budaya Melayu (seni tari, suara, dan adat-istiadat). Satu impian terbesar yang hingga detik ini bisa jadi angan-angan belaka adalah melanjutkan kuliah di Sastra Indonesia atau Melayu.

 

 


Add a Comment